Tampilkan postingan dengan label Bidang Matematika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bidang Matematika. Tampilkan semua postingan
Biografi Abu Al-Qasim Al-Majriti: Ahli Matematika dan Astronomi Muslim

Biografi Abu Al-Qasim Al-Majriti: Ahli Matematika dan Astronomi Muslim

April 25, 2013 0
Abu al-Qasim Salmah bin Ahmad al-Majriti lahir pada pertengahan abad X atau tepatnya pada tahun 950 di kota Madrid, Spanyol. Nama panggilannya adalah al-Majriti. Sejak kecil, al-Majriti tertarik mempelajari berbagai disiplin ilmu, terutama matematika dan astronomi. Ia menghabiskan masa kecilnya di Spanyol.

Al-Majriti dikenal sebagai pakar matematika Andalusia. Ia menulis banyak buku tentang ilmu matematika dan teknik. Ia mencoba menggabungkan matematika, teknik, dan astronomi dalam sebuah buku yang membahas tentang alat pengukur ketinggian benda langit yang berjudul Astrolabe.

Selain pakar matematika, al-Majriti mempunyai ketertarikan yang luar biasa pada ilmu perbintangan. Al-Majriti berpendapat bahwa ilmu astronomi akan membuat manusia memahami peredaran planet dan bintang. Sehubungan dengan itu, al-Majriti banyak melakukan penelitian dan pengamatan terhadap benda-benda langit. Seperti ilmuwan lain pada masa itu, al-Majriti juga tertarik mempelajari beberapa buku karangan para ilmuwan sebelumnya, termasuk ilmuwan Yunani.

Setelah melakukan sejumlah penetilian, al-Majriti mengkaji buku Almagest karya Ptolomeus yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Arab. Ia lalu memberi komentar dan penjelasan terhadap buku tersebut. Sejumlah koreksi yang diberikan al-Majriti terhadap naskah perbintangan Yunani itu sangat teliti.

Al-Majriti juga memiliki keahlian dan kemampuan membuat jadwal waktu dan perbintangan. Adapun perhitungan yang dikaji al-Majriti terkait dengan jadwal waktu sholat, tahun baru Islam, awal bulan Ramadhan, dan lain-lain. Prestasi al-Majriti dalam ilmu astronomi adalah ia mengoreksi kalender buatan al-Khwarizmi.

Meskipun namanya dikenal sebagai seorang ilmuwan, tapi al-Majriti juga mempelajari sejarah klasik, arkeologi, dan kehidupan sosial masyarakat dengan serius. Ia tertarik meneliti masalah masyarakat di sekitarnya. Sebagai bentuk kepeduliannya, khususnya di bidang pendidikan, al-Majriti membangun sebuah sekolah besar, yang kemudian menjadi pusat keilmuwan, al-Zahrawi, seorang dokter ahli bedah Arab adalah bekas murid di sekolah tersebut. Ketika masih menjadi murid, al-Zahrawi mendapat bantuan berupa sejumlah alat kedokteran dari al-Majriti. Selain al-Zahrawi, al-Majriti juga mempunyai sejumlah murid yang hebat, seperti Ibnu Khaldun. Al-Majriti adalah seorang ilmuwan yang sangat mendukung para intelektual muda mempelajari ilmu modern demi kemajuan sesama manusia.
Biografi Abu Al-Qasim Al-Majriti: Ahli Matematika dan Astronomi Muslim
Selain bidang pendidikan, bidang lain yang juga menarik perhatian al-Majriti adalah ekologi atau ilmu tentang lingkungan. Al-Majriti sangat peduli terhadap alam semesta dan kelestariannya. Ia mempelajari keanekaragaman makhluk hidup dan menulis buku tentang lingkungan hidup.

Al-Majriti juga mengkaji ilmu kimia. Salah satu karyanya di bidang ini adalah Rutbatul Hkm fil Kimiyya. Buku tersebut menjadi referensi paling penting tentang sejarah kimia Andalusia. Tulisan lainnya adalah Ghayatul Hakim fis Simiyya, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin pada abad XIII dan langsung terkenal di Eropa. Para ilmuwan Arab dan Eropa menyebut kehebatan al-Majriti sejajar dengan al-Razi dan Ibnu Sina. Namun, masing-masing mempunyai kemampuan khusus sendiri.

Di kemudian hari, sebuah buku berjudul at-Tashrif bin Matsabatil Mausu'atil Ilmiyyah dijadikan tolok ukur kesuksesan al-Majriti. Setelah mendedikasikan diri di dunia ilmu pengetahuan selama bertahun-tahun, al-Majriti menghembuskan nafas terakhir pada tahun 1007 (397 H).
Biografi Al-Qalasadi: Pencipta Notasi Pecahan Modern

Biografi Al-Qalasadi: Pencipta Notasi Pecahan Modern

Februari 12, 2013 0
Nama lengkap al-Qalasadi adalah Abu al-Hasan Ali Muhammad bin al-Khurasi al-Basri. Ia dilahirkan di Baza (Basta), Spanyol, pada abad XV. Selain tersohor sebagai ahli matematika, intelektual Andalusia ini dikenal pula sebagai ahli hukum. Pada mulanya, al-Qalasadi hanya menekuni beberapa subyek ilmu, seperti ilmu kewarisan (faraid). Ia mempelajari ilmu tersebut lewat bimbingan Ali bin Musa. Setelah menamatkan pelajarannya, al-Qalasadi kemudian meninggalkan kota kelahirannya menuju ibu kota Granada. Di sana, ia belajar ilmu agama pada Abu Ishak Ibrahim bin Futuh dan Imam Abdullah al-Sarakusti.

Ia dikenal sebagai seorang cendikiawan yang sangat produktif menghasilkan karya-karya berkualitas. Ia mampu menjadikan beragam tema sebagai pokok bahasan yang menarik. Sebagian karyanya begitu terkenal dan dibaca oleh kaum terpelajar di belahan dunia Barat dan Timur. Nama besarnya pun kian melambung sebagai penulis yang berciri khas. Ia berani membuat karya-karya yang berbeda dari pada karya lain pada zamannya.

Al-Qalasadi adalah orang pertama yang menggunakan simbol-simbol yang kini digunakan dalam penulisan persamaan notasi pecahan. Sebagaimana diketahui, salah satu unsur penting dalam ilmu matematika, khususnya bilangan, adalah pecahan (fractions). Seorang ilmuwan muslim yang bernama al-Banna, dalam sebuah karyanya yang berjudul Talkhis A'mat al-Hisab, mendefinisikan pecahan sebagai pertautan antara dua bilangan untuk menunjukkan satu atau beberapa bagian. Hubungan antara bagian dan bilangan itu kemudian menghasilkan nama yang sama, yang disebut pecahan. Pembilangnya disebut bast, sedang penyebutnya disebut imam (Talkhis, Kashf al-Jilbab). Sebagai pengembangan dari hal itu, al-Qalasadi lalu meletakkan pembilang di atas penyebut dan memisahkan keduanya dengan sebuah garis horisontal. Alasannya, karena notasi tersebut (pecahan) adalah sesuatu yang masih baru pada masa itu. Untuk menjelaskan sebuah pecahan, al-Qalasadi lalu menggunakan pernyataan "ala ma'sihi" yang berarti "tempatkan di atasnya" dan "mafawk al-khatt" yang berarti "yang ada di atas garis".
Biografi Al-Qalasadi: Pencipta Notasi Pecahan Modern
Para ahli matematika Arab lain kemudian membedakan pecahan dalam lima jenis, yaitu pecahan biasa, pecahan tunggal atau pecahan sederhana (mufrad), pecahan pertalian (muntasbih), pecahan disjungsi atau yang tidak memiliki penyebut sama sekali (mukhtalif), pecahan yang masih dapat dibagi (mubah'ad), atau pecahan dari pecahan (fraction of fraction), dan pecahan terkecuali yang dipisahkan tanda minus (mustalua'). Kelima jenis pecahan dan pengembangannya itu kemudian dibahas secara mendalam oleh al-Qalasadi.

Al-Qalasadi adalah ahli matematika pertama yang menggunakan simbolisasi saat membahas atau menulis sebuah persamaan. Selain itu, al-Qalasadi juga pernah mengomentari karya Ibnu al-Banna al-Marakushi, yaitu Talkhis. Ia berkata bahwa karya tersebut memuat rumusan tingkat tinggi yang dibuat dengan kecermatan dan ketetapan yang nyaris sempurna, untuk memperoleh akar kuadrat.

Al-Qalasadi menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 1 Desember 1486 (15 Dzulhijjah 891 H) di Ifrikiya, Bedja.
Biografi Pythagoras: Pencetus Rumus Pythagoras

Biografi Pythagoras: Pencetus Rumus Pythagoras

Februari 07, 2013 0
Pythagoras (+/- 572 - 497 SM), menurut riwayat hidupnya, ia dilahirkan di Pulau Samos, Ionia. Tanggal dan tahunnya tidak diketahui secara pasti. Ia juga tidak meninggalkan tulisan-tulisan sehingga apa yang diketahui tentang Pythagoras diperlukan kesaksian-kesaksian. Menurut Aristoxenos seorang murid Aristoteles, Pythagoras pindah ke kota Kroton, Italia Selatan karena tidak setuju dengan pemerintahan Polykrates yang bersifat tirani. Di kota ini ia mendirikan sekolah agama, selama 20 tahun ia di Kroton, kemudian pindah ke Metapontion dan meninggal di kota ini.

Pemikirannya, substansi dari semua benda adalah bilangan, dan segala gejala alam merupakan pengungkapan inderawi dari perbandingan-perbandingan matematis. Bilangan merupakan inti sari dan dasar pokok dari sifat-sifat benda (number rules the universe = bilangan memerintah jagat raya). Ia juga mengembangkan pokok soal matematik yang termasuk teori bilangan. Umpamanya, dikembangkannya susunan bilangan-bilangan yang mempunyai bentuk geometris.

Pemikirannya tentang bilangan, ia mengemukakan bahwa setiap bilangan dasar 1 sampai 10 mempunyai kekuatan dan arti sendiri-sendiri. Satu adalah asal mula segala sesuatu sepuluh, dan sepuluh adalah bilangan sempurna. Bilangan gasal (ganjil) lebih sempurna dari pada bilangan genap dan identik dengan finite (terbatas). Salah seorang penganut Pythagoras mengatakan bahwa Tuhan adalah bilangan tujuh, jiwa itu bilangan enam, badan itu bilangan empat.

Pythagoraslah yang mengatakan pertama kali bahwa alam semesta itu merupakan satu keseluruhan yang teratur, sesuatu yang harmonis seperti dalam musik. Keharmonisan dapat tercapai dengan menggabungkan hal-hal yang berlawanan, seperti:

terbatas - tak terbatas
ganjil - genap
satu - banyak
laki-laki - perempuan
bujur sangkar - empat persegi panjang
diam - gerak
lurus - bengkok
baik - buruk
terang - gelap
kanan - kiri
Biografi Pythagoras: Pencetus Rumus Pythagoras
Menurut Pythagoras, kearifan yang sesungguhnya hanya dimiliki oleh Tuhan saja, oleh karenanya ia tidak mau disebut sebagai orang arif seperti Thales, akan tetapi menyebut dirinya sebagai philosophos yaitu pencipta kearifan. Istilah philosophos ini kemudian menjadi philosophia yang terjemahannya secara harfiah adalah cinta kearifan atau kebijaksanaan sehingga sampai sekarang secara etimologis dan singkat sederhana, filsafat dapat diartikan sebagai cinta kearifan atau kebijaksanaan (love of wisdom).

Sebagai seorang yang ahli matematika abadi ia dengan dalilnya: jumlah dari luas dua sisi sebuah segi tiga siku-siku adalah sama dengan luas sisi miringnya ( a2 + b2 = c2).

*) Dari berbagai sumber.
Biografi Umar Khayyam: Ahli Matematika dan Sastra Muslim

Biografi Umar Khayyam: Ahli Matematika dan Sastra Muslim

November 15, 2012 0
Umar Kayyam lahir pada tahun 1048 di Khurasan. Nama lengkapnya adalah Ghyasiddin Abul Fatih ibn Ibrahim al-Khayyam. Sejak kecil, Khayyam sudah memperoleh pendidikan yang baik dari orang tuanya. Salah seorang gurunya adalah Imam Muwaffak, seorang pendidik yang terkenal pada masa itu.

Umar Khayyam dikenal sebagai ilmuwan cerdas abad pertengahan. Ia memiliki nama besar di bidang matematika, astronomi, dan sastra. Sehubungan dengan itu, ia mendapat julukan Tent Maker dari para ilmuwan semasanya.

Tanpa diduga, kecemerlangan nama Umar Khayyam menarik perhatian Sultan Malik Syah. Pada suatu ketika, Sultan menawarkan kedudukan tinggi di istana pada Khayyam, namun ditolaknya dengan sopan. Khayyam lebih memilih menekuni dunia ilmu pengetahuan dari pada menjadi pejabat. Akhirnya, Khayyam pun diberi fasilitas oleh Sultan. Ia diberi dana yang besar untuk membiayai penelitian khususnya di bidang matematika dan astronomi. Sultan juga mendirikan sebuah pusat observasi astronomi yang megah, tempat Khayyam mempersiapkan dan menyusun sejumlah tabel astronomi di kemudian hari. Di samping itu, Umar Khayyam juga diangkat menjadi ketua dari sekelompok sarjana yang terdiri dari delapan orang. Kedelapan orang sarjana tersebut adalah orang-orang pilihan Sultan yang ditunjuk untuk mengadakan sejumlah penelitian astronomi di Perguruan Tinggi Nizamiah, Baghdad.

Para ilmuwan inilah yang kemudian berhasil melakukan modifikasi terhadap perhitungan kalender muslim. Menurut perhitungan Khayyam, masa satu tahun adalah 365,24219858156 hari. Ia menghasilkan perhitungan yang sangat akurat hingga membuat para ilmuwan memuji kecerdasannya. Pada akhir abad XIX, para astronom menyatakan bahwa masa satu tahun adalah 365,242196 hari. Sementara itu, hitungan terakhir untuk masa satu tahun adalah 365,242190 hari. Sebuah nilai yang tidak jauh berbeda dari perhitungan Umar Khayyam berabad-abad sebelumnya.
Biografi Umar Khayyam: Ahli Matematika dan Sastra Muslim
Sejak tahun 1079, Umar Khayyam mulai menerbitkan hasil penelitiannya berupa tabel astronomi yang dikenal sebagai Zij Malik Syah. Adapun di bidang matematika, khususnya mengenai aljabar, ia juga menghasilkan sebuah karya, seperti al-Jabr (Algebra). Di kemudian hari, karya ini diedit dan diterjemahkan dalam bahasa Perancis. Al-Jabr dianggap sebagai sebuah sumbangan terbesar Umar Khayyam bagi negerinya dan perkembangan ilmu matematika.

Umar Khayyam adalah orang pertama yang mengklasifikasikan persamaan tingkat satu (persamaan linier) dan memikirkan pemecahan masalah persamaan pangkat tiga secara ilmiah. Selain itu, Umar Khayyam juga telah memperkenalkan sebuah persamaan parsial untuk ilmu aljabar dan geometri. Ia membuktikan bahwa suatu masalah geometri tertentu dapat diselesaikan dengan sejumlah fungsi aljabar. Pada abad XVX dan XVII, persamaan semacam ini justru lebih banyak digunakan oleh para ahli matematika Eropa. Hal ini merupakan bukti bahwa Umar Khayyam dan pengikutnya, Nashiruddin al-Thusi, telah berhasil mendahului para ahli matematika Barat. Karya Khayyam lainnya adalah Jawami al-Hisab. Karya ini memuat referensi paling awal tentang Segitiga Pascal dan menguji balik postulat V yang menyangkut teori garis sejajar, suatu hal mengenai geometri Euclides yang sangat mendasar.

Sebagai seorang muslim, Umar Khayyam termasuk kelompok moderat. Ia mempunyai pandangan yang berbeda dengan kebanyakan muslim pada waktu itu. Dengan kemampuannya bersastra, Khayyam juga menulis sejumlah puisi yang menggambarkan kisah hidupnya. Puisi tersebut termuat dalam karyanya yang berjudul Rubaiyat. Kini, karya tersebut masih tersimpan di negeri kelahirannya. Sementara itu, karya sastra Khayyam yang lain telah banyak diterjemahkan dalam bahasa Inggris, antara lain oleh Fitz Gerald pada tahun 1839.

Umar Khayyam meninggal dunia pada akhir abad XII.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
Biografi Abu Mansur Al-Baghdadi: Raja Aritmatika Muslim

Biografi Abu Mansur Al-Baghdadi: Raja Aritmatika Muslim

November 09, 2012 0
Nama lengkap Abu Mansur al-Baghdadi adalah Abu Mansur Abdul Qahir ibn Tahir ibn Muhammad al-Baghdad. Ia dikenal sebagai ahli matematika, filsafat teologi, dan sejarah. Ia menulis semua karyanya dalam bahasa Arab.

Semula, al-Baghdadi belajar ilmu hukum. Namun, ia kemudian merasa tertarik pada ilmu aritmatika dan mulai mempelajarinya. Al-Baghdadi selalu menggunakan waktunya untuk menulis sejumlah buku tentang ilmu hukum, aritmatika, matematika, dan ilmu kewarisan (faraid). Namun sayang, buku aritmatika karya al-Baghdadi tidak diketahui keberadaannya hingga kini.

Selain menguasai ilmu hukum dan aritmatika, al-Baghdadi juga pakar teologi. Ia telah menghasilkan sejumlah buku mengenai teologi, seperti Kitab al-Milal wa al-Nihal atau Ushul al-Din. Buku ini adalah sebuah risalah sistematik yang diawali dengan sifat dasar pengetahuan, penciptaan, bagaimana mengenal Sang Pencipta, dan lain-lain. Sekilas, Kitab al-Milal wa al-Nihal mirip dengan sebuah buku karya Muhammad bin Umar ar-Razi yang berjudul al-Muhassal. Namun, jika diperhatikan lebih cermat, terlihat ada perbedaan. Dalam Kitab al-Milal wa al-Nihal, al-Baghdadi menuliskan pandangannya dan nama sekte (mazhab) kepercayaan di setiap subyek. Karya ini bersifat obyektif.
Biografi Abu Mansur Al-Baghdadi: Raja Aritmatika Muslim
Salah satu karya al-Baghdadi yang membuat namanya menggelenda adalah Kitab al-Farq Bayn al-Firaq (Buku Tentang Sekte) dan at-Takmil. At-Takmil adalah sebuah buku yang membahas cara pemecahan warisan, sedangkan Kitab al-Farq Bayn al-Firaq menjelaskan berbagai macam sekte dari sudut pandang kuno atau ortodoks. Buku ini bersifat kontroversial. Di dalam Kitab al-Farq Bayn al-Firaq terdapat sebuah bab berjudul Socrates dan Plato. Pada bab ini, al-Baghdadi membahas sejumlah masalah keislaman yang diakhiri dengan penjelasan tentang kepercayaan kaum ortodoks. Al-Baghdadi juga menghasilkan sebuah karya yang mengkritisi pemikiran dan gagasan eksploratif Ibnu Hudhayl dan Ibnu Karram. Karya tersebut berjudul The Errors of Abu Hudhayl.

Diperkirakan, Abu Mansur al-Baghdadi meninggal dunia pada tahun 1037.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
Biografi John Napier: Penemu Logaritma dari Skotlandia

Biografi John Napier: Penemu Logaritma dari Skotlandia

November 07, 2012 0
John Napier (1550 - 1617) lahir dekat Edinburgh, Skotlandia, pada tahun 1550. Ia adalah anak dari seorang tanah yang kaya yang meninggal pada saat ia masih muda. Ia belajar bahasa Latin, Yunani, dan matematika dari seorang guru privat. Pada usia 13 tahun, ia belajar di Universitas St. Andrews. Secara mengejutkan, ia tidak menyelesaikan gelar universitasnya akan tetapi pergi ke Eropa. Ia kembali ke rumah pada usia 21 tahun dan menikah setahun kemudian. Istri pertamanya meninggal dunia di tahun 1579, dan ia menikah lagi beberapa tahun kemudian.

Pada masa tersebut terjadi pergolakan untuk menentukan siapa penguasa kerajaan Inggris selanjutnya. Beberapa pertikaian muncul mengenai penentuan apakah Inggris akan menjadi negara Katolik atau Protestan. John Napier terlibat dalam tiga peristiwa untuk mendukung gereja Protestan sebagai pembelaannya terhadap King James VI dari Skotlandia.

Tidak mengherankan jika John terlibat dalam perang. Akan tetapi, ia akhirnya mengalihkan ketertarikannya pada bidang matematika dan astronomi. Ia ingin mencari cara untuk mengurangi waktu yang diperlukan pada saat menghitung bilangan yang panjang, seperti 57162958 x 6173298.
Biografi John Napier: Penemu Logaritma dari Skotlandia
Pada tahun 1614, ia telah menyelesaikan buku pertamanya mengenai logaritma. Ia menemukan metode perkalian bilangan dengan menambah logaritmanya kemudian menggunakan invers logaritma untuk mendapatkan hasil akhir. Napier juga menemukan sehimpunan bilangan batang, yang sekarang disebut dengan Napier's bones, yang digunakan untuk mengalikan bilangan-bilangan. Penemuan-penemuan Napier adalah awal dari digunakannya penggaris geser dan kalkulator.

Napier meninggal dunia di Puri Merchiston pada tanggal 4 April 1617 dalam usia 67 tahun.

*Dari berbagai sumber
Biografi Al-Biruni: Ilmuwan Muslim Ahli Penanggalan Tarikh

Biografi Al-Biruni: Ilmuwan Muslim Ahli Penanggalan Tarikh

Oktober 24, 2012 0
Nama lengkap al-Biruni adalah Abu ar-Rayhan Muhammad bin Ahmad al-Biruni. Ia dilahirkan di kota Bairun, sebuah kota yang menjadi wilayah Khwarizmi, Persia, pada tahun 973. Nenek moyang al-Biruni adalah bangsa Persia, tapi keluarganya berkebangsaan Iran. Selama dua puluh tahun, al-Biruni tinggal di kota Bairun dan menghabiskan waktunya untuk belajar ilmu astronomi, sastra, dan filsafat. Al-Biruni juga pernah melakukan perjalanan ke sejumlah negara, seperti Persia, Afghanistan, Irak, dan Syam, untuk mendalami seni budaya. Selama itu pula, al-Biruni berinteraksi dengan para penguasa negeri Sasaniyah dan Ghaznawiyah. Dalam perjalanannya itu, al-Biruni sempat bertemu dengan Ibnu Sina. Ia menjadi kawan dekat Ibnu Sina selama tujuh tahun.

Para ilmuwan modern menyebut al-Biruni sebagai salah satu ilmuwan terbesar abad pertengahan. Ia juga dikenal sebagai sarjana yang cerdas, berbakat, dan mempunyai pikiran yang orisinal. Ia mahir matematika, astronomi, fisika, sejarah, geografi, bahasa, dan budaya. Dalam ilmu agama, ia dikenal sebagai seorang guru agama dan cendikiawan Islam yang jujur dan objektif. Dalam ilmu matematika dan astronomi, ia menghasilkan empat puluh buku dan risalah. Nama al-Biruni mulai mencuat pada abad XI ketika kondisi politik Timur Tengah mulai goyah.

Sebagai seorang ilmuwan yang menguasai berbagai ilmu, al-Biruni memperkenalkan pengukuran geodetik, menentukan koordinat sejumlah tempat dengan teliti dan cermat, dan menetapkan arah kiblat dengan bantuan astronomi dan matematika. Selain itu, ia juga ikut menentukan jarak keliling bumi bersama sejumlah ilmuwan lain.

Meskipun mahir berbahasa Persia, tapi al-Biruni menulis sejumlah besar karyanya dalam bahasa Arab. Hanya sedikit karya al-Biruni yang ditulis dalam bahasa Persia asli dan Persia-Arab. Ketika sedang berada di India Barat, al-Biruni sempat mengajar sains Yunani dan ilmu pengetahuan lainnya dengan menggunakan bahasa Sansekerta sebagai bahasa pengantar. Bahasa itu dipelajarinya selama berada di India. Selain belajar bahasa, al-Biruni juga mempelajari adat kebiasaan dan aliran keagamaan masyarakat setempat. Di akhir perjalanan, al-Biruni menulis semua pengetahuannya tentang peradaban India dalam beberapa karya, seperti Tahqiq ma li al-Hind min Maqulah Maqbulah fi al-Aql Au Mardzulah (Penelitian Tentang Pendapat dan Ucapan Bangsa India yang Diterima dan Ditolak Akal), Tarikh al-Umam asy-Syaqiyah (Sejarah Bangsa-bangsa Timur), dan Tarikh al-Hind (Sejarah India).
Biografi Al-Biruni: Ilmuwan Muslim Ahli Penanggalan Tarikh
Al-Biruni juga telah menulis banyak buku matematika dan astronomi. Bukunya yang terkenal dan terlengkap adalah Kitab al-Qanun al-Mas'udi fi al-Haya wa an-Nujum, sebuah buku ensiklopedi astronomi, geografi, dan matematika. Di salah satu halaman buku itu, al-Biruni membahas tentang kompleksitas gerak planet. Al-Biruni menghadiahkan Kitab al-Qanun al-Mas'udi fi al-Haya wa an-Nujum kepada Sultan Ghaznawiyah. Ketika sang sultan hendak memberinya upah, al-Biruni menolak dengan alasan, "Sesungguhnya ilmu dipergunakan untuk ilmu, bukan untuk harta."

Al-Biruni adalah penemu dan peneliti yang sangat cerdas. ia berpendapat bahwa Laut Putih (Laut Tengah atau Mediterania) dan Laut Merah, yang saat itu telah dihubungkan dengan Terusan Suez, sebenarnya saling berhubungan. Ia juga berpendapat bahwa suara lebih cepat dari pada cahaya. Ia menciptakan rumus untuk mengukur perkiraan keliling bola dunia. Di kemudian hari, rumus tersebut dinamakan Kaidah al-Biruni oleh para ilmuwan Barat.

Selain menguasai ilmu eksakta, al-Biruni juga mahir ilmu filsafat, agama, dan sejarah. Para ulama Timur dan Barat menganggapnya sebagai penulis sejarah peradaban bangsa Timur yang paling detail. Semasa hidupnya, al-Biruni telah menulis sejumlah karya, baik dalam bidang astronomi maupun arsitektur. Karya tersebut antara lain al-Irsyad, Tahdid Nihayat al-Amakin Litashih Masafat al-Makasin, at-Tafhim Liawail Sina'at at-Tanjim, Istikhraj al-Autar, as-Saidalah, Risalah fi as-Siah Bain Ahjan al-Ma'adin wa al-Jawahir, dan Risalah fi an-Nasab Bain al-Filzat wa al-Jawahir fi al-Hajm. Di kemudian hari, karya-karya tersebut diterjemahkan dalam berbagai bahasa, seperti Latin, Ibrani, Italia, dan Inggris. Para ilmuwan Barat menganggap al-Biruni sebagai salah satu tokoh yang mempunyai pengaruh besar bagi bangsa Barat dan ilmu pengetahuan modern. Selama hidupnya, al-Biruni telah menghasilkan 138 karya.

Al-Biruni meninggal dunia pada tahun 1050 di Afghanistan.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
Biografi Sofia Kovalevskaya: Matematikawan Wanita Rusia

Biografi Sofia Kovalevskaya: Matematikawan Wanita Rusia

Oktober 11, 2012 0
Sofia Kovalevskaya (15/01/1850 - 10/02/1891) dilahirkan di Moskow. Keluarganya merupakan bagian dari bangsawan Rusia. Sejak kecil ia tertarik pada bidang matematika, dan pada usianya yang ke-11, dinding kamarnya dipenuhi dengan catatan-catatan kalkulus. Ketika ia berusia 14 tahun, seorang tetangganya memberikan keluarga Sofia sebuah buku fisika. Sofia sangat tertarik untuk membaca buku itu dan mencoba untuk memahami semua rumus-rumus dengan menarik kesimpulan rumus-rumus itu dari prinsip-prinsip dasar. Penulis buku fisika itu merasa terkesan dan menyuruh ayah Sofia lebih mendukung Sofia belajar matematika.

Sofia ingin melanjutkan pendidikannya ke universitas, akan tetapi perempuan tidak diijinkan untuk masuk ke universitas di Rusia pada saat itu. Apalagi saat itu Sofia belum menikah. Peraturan pada masa itu di Rusia adalah perempuan muda yang belum menikah tidak diperbolehkan untuk keluar sendirian. Akhirnya ia menikahi Vladimir Kovalevsky pada tahun 1868 untuk memenuhi keinginannya belajar di universitas. Tidak lama setelah itu, ia pergi ke Jerman dan menjadi mahasiswa di Universitas Heidelberg.

Pada tahun 1870, Sofia bertemu dengan Karl Weierstrass yang merupakan salah satu ilmuwan matematika terkenal pada waktu itu. Karl memberikan tugas kepada Sofia untuk mengerjakan sekumpulan soal. Dari sinilah Karl mengetahui bahwa kemampuan matematika Sofia sangat hebat. Sofia belajar bersama Karl di Berlin selama 4 tahun dan mendapat gelar PhD pada tahun 1874. Kemudian Sofia pulang kembali ke Rusia. Pada tahun 1878, ia melahirkan seorang anak perempuan bernama Fufa. Pada tahun 1883, Sofia kembali ke Berlin tetapi kemudian ia menerima kabar buruk bahwa suaminya, Vladimir, telah melakukan bunuh diri.
Biografi Sofia Kovalevskaya: Matematikawan Wanita Rusia
Pada akhir tahun 1884, Sofia menerima undangan untuk memberi kuliah di Universitas Stockholm. Setelah 5 tahun Sofia mengajar di sana, ia diangkat menjadi Kepala Departemen Matematika. Hanya dua wanita lain, yaitu ahli fisika Laura Basai dan ahli matematika Maria Agnesi yang pernah berhasil bertahan pada posisinya di universitas di Eropa.

Pada malam natal tahun 1888, Sofia memenangkan Prix Bordin yang terkenal. Tim penilai memilih lembar jawaban Sofia dan menyatakan Sofia sebagai pemenang. Tim penilai juga menaikkan hadiah uang dari 3000 franc menjadi 5000 franc, "dikarenakan pekerjaan yang sungguh luar biasa ini yang telah mengubah masalahnya menjadi fisika matematika." Banyak orang terkejut ketika diumumkan bahwa pemenangnya adalah seorang perempuan. Dua tahun kemudian, Sofia meninggal dunia karena komplikasi influensa oleh bakteri pnuemonia.

*) Dari berbagai sumber
Biografi Singkat Johann Carl Friedrich Gauss: Matematikawan Jerman

Biografi Singkat Johann Carl Friedrich Gauss: Matematikawan Jerman

September 21, 2012 0
Carl Friedrich Gauss (1777 - 1855) adalah seorang matematikawan, astronomi, dan fisikawan asal Jerman legendaris yang memberikan beragam kontribusi. Ia dipandang sebagai salah satu matematikawan terbesar sepanjang masa selain Archimedes dan Isaac Newton.

Pada tanggal 30 April 1777, Carl Friedrich Gauss dilahirkan di Braunschweig, Jerman. Pada saat umurnya belum genap 3 tahun, ia telah mampu mengoreksi kesalahan daftar gaji tukang batu ayahnya. Menurut sebuah cerita, pada umur 10 tahun ia membuat gurunya terkagum-kagum dengan memberikan rumus untuk menghitung jumlah suatu deret aritmatika berupa perhitungan deret 1 + 2 + 3 + ... + 100. Meski cerita ini hampir sepenuhnya benar, soal yang diberikan gurunya sebenarnya lebih sulit dari itu.

Gauss seorang ilmuwan dalam berbagai bidang, seperti matematika, fisika, dan astronomi. Bidang analisis dan geometri menyumbang banyak sekali sumbangan-sumbangan pikiran Gauss dalam matematika. Kalkulus (termasuk limit) merupakan salah satu bidang analisis yang juga menarik perhatiannya.
Biografi Singkat Johann Carl Friedrich Gauss: Matematikawan Jerman
Gauss meninggal dunia di Gottingen pada tanggal 23 Februari 1855.

*) Dari berbagai sumber
Biografi Tsabit bin Qurrah: Ahli Geometri Islam Terbesar

Biografi Tsabit bin Qurrah: Ahli Geometri Islam Terbesar

September 06, 2012 0
Tsabit bin Qurrah lahir pada tahun 833 di Haran, Mesopotamia. Ia dikenal sebagai ahli geometri terbesar pada masa itu. Tsabit merupakan salah satu penerus karya al-Khawarizmi. Beberapa karyanya diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Latin, khususnya karya tentang Kerucut Apollonius. Tsabit juga pernah menerjemahkan sejumlah karya ilmuwan Yunani, seperti Euclides, Archimedes, dan Ptolomeus.

Karya orisinal Archimedes yang diterjemahkannya berupa manuskrip berbahasa Arab, yang ditemukan di Kairo. Setelah diterjemahkan, karya tersebut kemudian diterbitkan di Eropa. Pada tahun 1929, karya tersebut diterjemahkan lagi dalam bahasa Jerman. Adapun karya Euclides yang diterjemahkannya berjudul On the Promises of Euclid; on the Propositions of Euclid dan sebuah buku tentang sejumlah dalil dan pertanyaan yang muncul jika dua buah garis lurus dipotong oleh garis ketiga. Hal tersebut merupakan salah satu bukti dari pernyataan Euclides yang terkenal di dunia ilmu pengetahuan. Selain itu, Tsabit juga pernah menerjemahkan sebuah buku geometri yang berjudul Introduction to the Book of Euclid.

Buku Elements karya Euclides merupakan sebuah titik awal dalam kajian ilmu geometri. Seperti yang dilakukan para ilmuwan muslim lain, Tsabit bin Qurrah pun tidak mau ketinggalan mengembangkan dalil baru tersebut. Ia mulai mempelajari dan mendalami masalah bilangan irasional. Dengan metode geometri, ia ternyata mampu memecahkan soal khusus persamaan pangkat tiga. Sejumlah persamaan geometri yang dikembangkan Tsabit bin Qurrah mendapat perhatian dari sejumlah ilmuwan muslim, terutama para ahli matematika. Salah satu ilmuwan tersebut adalah Abu Ja’far al-Khazin, seorang ahli yang sanggup menyelesaikan beberapa soal perhitungan dengan menggunakan bagian dari kerucut. Para ahli matematika menganggap penyelesaian yang dibuaat Tsabit bin Qurrah sangat kreatif. Tentu saja, hal tersebut disebabkan Tsabit bin Qurrah sangat menguasai semua buku karya ilmuwan asing yang pernah diterjemahkannya.

Biografi Tsabit bin Qurrah: Ahli Geometri Islam Terbesar
Tsabit bin Qurrah juga pernah menulis sejumlah persamaan pangkat dua (kuadrat), persamaan pangkat tiga (kubik), dan beberapa pendalaman rumus untuk mengantisipasi perkembangan kalkulus integral. Selain itu, ia melakukan sejumlah kajian mengenai parabola, sebelum kemudian mengembangkannya. Dalam bukunya yang berjudul Quadrature of Parabola, ia menggunakan bentuk hitungan integral untuk mengetahui sebuah bidang dari parabola.

Selain mahir matematika, Tsabit juga ahli astronomi. Ia pernah bekerja di Pusat Penelitian Astronomi yang didirikan oleh Khalifah al-Ma’mun di Baghdad. Selama bekerja di sana, Tsabit meneliti gerakan sejumlah bintang yang disebut Hizzatul I’tidalain, yang ternyata mempengaruhi terjadinya gelombang bumi setiap 26 tahun sekali. Sejak 5000 tahun yang lalu, para ahli perbintangan Mesir telah menemukan sebuah bintang yang bergerak mendekati Kutub Utara, yang disebut Alfa al-Tanin. Pada tahun 2100 nanti, bintang tersebut akan menjauhi Kutub Utara. Pada tahun 14000, akan muncul kembali sebuah bintang utara yang bernama an-Nasr. Bintang tersebut adalah bintang utara yang paling terang.

Tsabit juga memimpin sebuah penelitian pada masa pemerintahan Khalifah al-Rasyid. Tsabit mengukur luas bumi dengan menggunakan garis bujur dan garis lintang secara teliti. Penemuan Tsabit tersebut memberikan inspirasi pada para pelaut, seperti Colombus, untuk melakukan pelayaran keliling dunia yang dimulai dari Laut Atlantik. Berkat penemuan tersebut, para pelaut bisa memastikan kalau mereka tidak akan tersesat dan kembali ke tempat semula, yaitu Laut Atlantik. Penemuan penting Tsabit yang lain adalah jam matahari. Jam ini menggunakan sinar matahari untuk mengetahui peredaran waktu dan menentukan waktu shalat. Tsabit juga membuat kalender tahunan berdasarkan sistem matahari.

Tsabit bin Qurrah meninggal dunia pada tahun 911 di Baghdad.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
Biografi Ibnu Irak: Ahli Matematika dan Astronomi Muslim

Biografi Ibnu Irak: Ahli Matematika dan Astronomi Muslim

Agustus 22, 2012 0
Nama lengkap Ibnu Irak adalah Abu Nasr Mansur bin Ali Ibnu Irak. Ia dikenal sebagai seorang ahli matematika yang tekemuka pada tahun 1000. Ia berasal dari keluarga Ibnu Irak yang pernah memerintah al-Khawarazam, sebelum kemudian ditaklukan oleh Mahmud dari Ghazna. Latar belakang keluarganya yang cukup terhormat dan berada membuatnya bisa bersekolah dengan baik.

Sejak kecil, Ibnu Irak sudah menunjukkan ketertarikan pada ilmu hitung dan perbintangan. Ketika menginjak usia remaja, ia gemar membaca beberapa naskah ilmuwan Yunani, terutama Euclides. Ia bahkan mencoba memecahkan beberapa soal yang belum terselesaikan para ilmuwan sebelumnya. Minatnya terhadap benda luar angkasa pun sangat besar. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan pelajaran agama, Ibnu Irak mencurahkan seluruh kemampuannya untuk memperdalam ilmu matematika dan astronomi. Didukung kecerdasannya, ia berhasil membuat sejumlah prestasi di bidang tersebut.

Pada abad pertengahan, beberapa kajiannya menjadi bahan perbincangan para sarjana Eropa. Selain itu, sekitar lima belas karyanya yang membahas tentang matematika dan astronomi telah diterbitkan. Umumnya, karyanya tersebut berisi pembahasan berbagai macam persoalan yang terdapat dalam Zidjes (Sets of Astronomical Tables), pembahasan fungsi trigonometri khusus (Jadwal ad-Daka’ik), dan beberapa penyelesaian untuk mengatasi kesulitan saat memahami karya Euclides, Elements. Di kemudian hari, Jadwal ad-Daka’ik menjadi bahan rujukan dalam bidang matematika, astronomi, dan geografi. Para ahli menganggap karya tersebut bermutu tinggi, meskipun sekilas hampir mirip dengan karya sejenis yang ditulis oleh para astronom dan ilmuwan lain.
Biografi Ibnu Irak: Ahli Matematika dan Astronomi Muslim
Selain tekun meneliti benda-benda langit dan mengkaji matematika, Ibnu Irak juga membagikan ilmunya pada sejumlah murid. Pada masa itu, Ibnu Irak mempunyai banyak pengikut, salah satunya adalah al-Biruni. Ibnu Irak juga dikenal karena hasil revisinya terhadap karya berjudul Spherics, yang kemudian disempurnakannya kembali pada tahun 1007-1008.

Dalam karya al-Biruni yang berjudul Treatise on Chords, Ibnu Irak disebut sebagai penemu beberapa persamaan matematika, sedangkan dalam buku karya al-Biruni lainnya, Cronology of Ancient Nation, Ibnu Irak dipuji karena telah menemukan sebuah metode baru untuk menentukan apogee matahari dari tiga titik yang selalu berubah-ubah pada ekliptika (orbit di mana matahari kelihatan bergerak). Apogee adalah titik terjauh dari bumi dalam peredaran satelit. Selain al-Biruni, sejumlah ilmuwan matematika lain juga memuji karya Ibnu Irak yang menguraikan tentang trigonometri. Ibnu Irak dianggap sebagai ahli pengembangan fungsi sinus, kosinus, dan tangent.

Ibnu Irak menulis riwayat hidupnya dalam buku berjudul al-Amir dan Mawla Amir al-Mu’mini.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim

Biografi Abu Kamil Shuja': Ahli Aljabar Muslim

Agustus 17, 2012 0
Abu Kamil dikenal sebagai ahli aljabar Islam yang cukup produktif menghasilkan karya. Nama lengkapnya adalah Abu Kamil Shuja’ bin Asalam bin Muhammad bin Shuja’ al-Hasib al-Misri. Ia dikenal sebagai penerus al-Khawarizmi. Abu Kamil adalah salah seorang ahli matematika terbesar pada abad pertengahan. Abu Kamil telah memberikan pengaruh besar pada perkembangan aljabar di Eropa. Tulisan-tulisannya tentang geometri pun sangat berpengaruh terhadap perkembangan geometri Barat, terutama sejumlah uraian aljabar terhadap soal geometri.

Semasa hidupnya, Kamil banyak menulis buku tentang ilmu aljabar. Al-Fihrist adalah sebuah daftar buku matematika dan astrologi. Buku ini memuat dua buah karyanya yang berjudul Kitab fi al-Jam wa al-Tafrik (Tentang Pertambahan dan Pengurangan) dan Kitab al-Khata’ayn (Tentang Dua Kesalahan). Kedua buku tersebut cukup terkenal di Eropa. Di kemudian hari, karya-karya Abu Kamil Shuja’ diterjemahkan dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Latin dan Ibrani.

Pada tahun 1863, seorang ilmuwan Eropa yang bernama F. Woepeke memperkenalkan Kitab fi al-Jam wa at-Tafrik karya Kamil. Buku ini kemudian diterjemahkannya dalam bahasa Latin dengan judul Augmentum et Diminutio. Karya hebat Abu Kamil lainnya juga dimuat dalam sebuah buku yang berjudul at-Ta’arif, yang kemudian terkenal di Eropa. Buku ini berisi sejumlah penyelesaian integral dari persamaan-persamaan tak tentu. At-Ta’arif juga diterjemahkan dalam bahasa Ibrani, dengan diberi tambahan berupa risalah Abu Kamil tentang soal-soal aljabar.
Biografi Abu Kamil Shuja': Ahli Aljabar Muslim
Pada abad XIII, seorang ilmuwan Eropa yang bernama Leonardo berkata bahwa buku karangan Abu Kamil Shuja’ adalah salah satu karya andal di dunia Arab. Leonardo juga menerjemahkan sejumlah buku pengetahuan Arab, salah satunya adalah karya Abu Kamil. Sebagai ilmuwan pengembara, Leonardo menyebarkan pengetahuan matematika Hindu-Arab ke Eropa. Dengan dasar teori berhitung yang dipelajarinya dari karya Abu Kamil dan al-Khawarizmi, Leonardo berhasil menyusun sebuah buku berjudul Liber Abaci (1202), yang kemudian disempurnakannya kembali pada tahun 1228. Buku ini berisi pengetahuan tentang bilangan bulat dan pecahan, cara menghitung akar kuadrat dan akar kubik, serta cara memecahkan persamaan liner dan kuadrat. Sejumlah risalah geometri karya Abu Kamil juga disebarkan Leonardo dalam bentuk buku berjudul Practica Geometriae atau Practice of Geometry ke Eropa.

Karya Abu Kamil tentang aljabar lebih dikenal lewat terjemahannya dalam bahasa Latin. Hal tersebut dapat dilihat lewat sebuah hasil studi yang dilakukan oleh L. C. Karpinski, seorang ahli matematika dan fisika Eropa, yang menuliskan hasil penelitiannya dalam bidang matematika dalam sebuah buku berjudul The Algebra of Abu Kamil Shuja’ bin Asalam. Ia menyusun buku tersebut berdasarkan karya Abu Kamil versi bahasa Latin, khususnya bagian definisi jazr (akar), mal (kapital), dan mufrad (numerik). Karya Abu Kamil di bidang ilmu hitung tidak dapat dipisahkan dari pengaruh al-Khawarizmi. Namun, ada beberapa cara penyelesaian soal matematika ala Abu Kamil yang mengungguli para pendahulunya. Hal tersebut menandakan adanya kemajuan yang terjadi di setiap generasi.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
Biografi Al-Khawarizmi: Bapak Matematika Islam

Biografi Al-Khawarizmi: Bapak Matematika Islam

Agustus 17, 2012 0
Nama lengkap al-Khawarizmi adalah Abu Ja'far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Ia lahir pada tahun 780 di Khwarizmi, sebuah kota kecil di pinggiran Sungai Oxus, Uzbekistan. Ia dipanggil dengan sebutan al-Khawarizmi untuk menunjukkan tempat kelahirannya. Di Barat, terutama Eropa, ia dikenal dengan nama Algoarismi, Algorism, atau Algoritma. Ketika al-Khawarizmi masih kecil, kedua orang tuanya pindah dari Uzbekistan menuju Baghdad, Irak. Pada masa itu, Irak berada di bawah pemerintahan Khalifah al-Ma'mun (813-833).

Al-Khawarizmi terkenal dengan teori Algoritmanya. Selain itu, ia juga menciptakan teori matematika lain. Misalnya, aljabar, yang disebut aritmetika (ilmu hitung) oleh para ilmuwan Barat. Pada masa itu, aljabar menggunakan angka-angka Arab. Aljabar diambil dari kata depan judul buku yang dikarangnya, yaitu al-Jabr wa al-Muqabilah. Dalam buku ini, ia merumuskan dan menjelaskan secara detail Tabel Trigonometri. Tak hanya itu, buku tersebut juga memperkenalkan sejumlah Teori Kalkulus Dasar. Kehebatan al-Khawarizmi lainnya adalah ia tidak hanya mampu mengenali suatu hal sebagai subyek, tapi juga mampu menyelesaikan masalah yang ada dalam subyek tersebut. Atas kontribusinya itu, al-Khawarizmi dianggap sebagai tokoh paling penting dalam sejarah perkembangan ilmu Matematika, terutama Aljabar. Dia adalah ilmuwan muslim pertama yang terkenal di bidang ini. Sebuah karangan al-Khawarizmi yang dianggap penting dan telah disalin dalam bahasa Latin adalah Trattari d'Arithmetica. Buku tersebut membahas beberapa soal hitungan, asal-usul angka, dan sejarah angka-angka yang sekarang ini kita gunakan. Trattari d'Arithmetica diterbitkan pada tahun 1857 di Roma.
Biografi Al-Khawarizmi: Bapak Matematika Islam
Pada era Copernicus, seseorang tidak bisa disebut sebagai ahli Matematika jika tidak mampu menganalisa karya ilmiah para ahli Matematika terdahulu. Oleh karena itu, para ahli pada masa itu berlomba-lomba menyalin beberapa contoh praktis untuk dianalisa, misalnya tentang perhitungan ketinggian gunung, kedalaman lembah, dan jarak antara dua buah obyek, atau permukaan yang tidak rata. Al-Khawarizmi sendiri menganalisa dan mengoreksi kesalahan yang terdapat dalam sebuah tulisan mengenai aljabaar karya Diophantus dari Yunani (250 SM). Ia menjelaskan kembali teori ciptaan Diophantus, sebelum kemudian mengembangkannya. Selain itu, ia juga menambahkan beberapa rumus lain, seperti rumus segitiga, dan menyusun daftar Logaritma.

Al-Khawarizmi juga menghasilkan karya di bidang astronomi. Ia membuat sebuah tabel yang khusus mengelompokkan ilmu perbintangan ini. Pada awal abad XII, sejumlah karya al-Khawarizmi diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Adelard of Bal dan Gerard of Cremona. Selanjutnya, karya al-Khawarizmi versi bahasa Latin tersebut diterjemahkan lagi dalam sejumlah bahasa yang digunakan di Eropa. Terakhir, karya tersebut diterjemahkan dalam bahasa Cina. Beberapa universitas di Eropa menggunakan buku karya al-Khawarizmi sebagai bahan acuan dan buku teks pelajaran untuk para mahasiswanya hingga memasuki pertengahan abad XVI.

Al-Khawarizmi meninggal dunia pada tahun 850.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim