Tampilkan postingan dengan label Bidang Geografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bidang Geografi. Tampilkan semua postingan
Biografi Piri Reis: Memetakan Antartika

Biografi Piri Reis: Memetakan Antartika

September 10, 2013 0
Piri Reis adalah seorang laksamana yang gagah berani. Ia lahir pada tahun 1465 di Gallipoli, Turki, yang merupakan wilayah pantai. Ayahnya bernama Haci Mehmet. Pamannya adalah seorang laksamana terkenal pada masa itu yang bernama Kemal Reis. Sejak Kecil, Piri Reis selalu melihat laut dan terbiasa berlayar. Ketika umurnya baru dua belas tahun, ia telah menjadi awak kapal sang paman. Meskipun masih belia, Piri Reis sangat pandai dan pemberani. Selama empat belas tahun, ia berlayar menantang ganasnya laut bersama sang paman, Kemal Reis, yang terus memberikan bimbingan. Inilah pengalaman navigasi pertama Piri Reis.

Sebagai laksamana yang gagah berani, sepak terjang Kemali Reis di laut lepas membuat Kesultanan Ottoman memberinya kedudukan tinggi di Angkatan Laut Kesultanan (1494). Kehadirannya membuat kekuatan Angkatan laut Kesultanan Ottoman semakin bertambah. Tak lama sejak Kemal Reis bergabung dengan Angkatan Laut Kesultanan, Piri Reis ikut bergabung pula, ia menjadi awak kapal pimpinan sang paman. Sesekali, ia dipercaya memimpin pasukan kecil.

Di tengah kesibukannya berlayar, Piri Reis sering menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya. Di sana, ia mengisi waktu dengan menuliskan kembali kisah perjalanannya. Di kemudian hari, catatan perjalanan Piri Reis menjadi sebuah karya monumental yang dianggap sebagai panduan penting bagi dunia navigasi dan memperkaya ilmu geografi. Pada tahun 1513, Piri Reis telah menghasilkan sebuah peta dunia. Ia memetakan laut Atlantik dan sejumlah pantai di Eropa. Karyanya tersebut diberi judul I-Bahriye.

Pada tahun 1516-1517, Piri Reis diperintahkan memimpin pasukan Ottoman melawan Mesir. Dalam kesempatan ini, ia berlayar menuju Kairo, melalui Sungai Nil. Setelah tugasnya selesai, Piri Reis membuat sebuah karya yang menyerupai peta, yang berisi informasi detail tentang wilayah tersebut. Selain itu, ia juga menggambarkan semua hal yang dilihatnya selama dalam perjalanan, terutama tentang keelokan Sungai Nil.

Setelah Mesir bergabung dengan Kesultanan Ottoman, Piri Reis mendapat kesempatan untuk membina hubungan laut dengan seorang penguasa Mesir bernama Yavuz Selim. Piri Reis kemudian memperlihatkan peta Mesir buatannya kepada Yavuz. Hasil karyanya itu lalu ditambahkan ke dalam I-Bahriye.

Pada tahun 1520, terjadi pertempuran dahsyat antara pasukan Ottoman melawan pasukan Venesia. Saat itu, pasukan Ottoman berhasil memukul mundur pasukan musuh. Kekaisaran Ottoman pun memperoleh kemenangan yang besar. Sebagai salah satu pemimpin pasukan, Piri Reis ikut merasa senang, mesikupun tidak lama. Kegembiraannya berubah menjadi duka ketika mengetahui sang paman, Kemal Reis, gugur di medan pertempuran. Sebagai pengganti Kemal Reis, pihak Kekaisaran Ottoman kemudian menunjuk Piri Reis. Ia pun diangkat menjadi Laksamana Kesultanan Ottoman.

Di tengah kesibukannya sebagai laksamana, Piri Reis masih sempat meluangkan waktu untuk menulis kisah perjalanannya. Pada tahun 1528-1529, Piri Reis berhasil memetakan wilayah Barat Daya Atlantik. Sebuah wilayah yang disebut sebagai dunia baru dan terletak antara Venezuela hingga Greenland bagian selatan. Keberadaan peta ini melengkapi peta Piri Reis sebelumnya yang terdapat dalam I-Bahriye.

Biografi Piri Reis: Memetakan Antartika

Lewat I-Bahriye, Piri Reis telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi ilmu pengetahuan, terutama ilmu geografi dan navigasi. Tidak hanya berguna baagi para pelaut Muslim, I-Bahriye juga berguna bagi pelaut bangsa Barat. Piri Reis, sang laksamana adalah pelaut yang telah mengharumkan nama Kesultanan Ottoman dan Islam.

Ratusan tahun kemudian, pada tahun 1929, sekelompok sejarawan tanpa sengaja menemukan sebagian peta buatan Piri Reis ketika sedang mengelilingi Istana Topkapi di Konstantinopel. Peta tersebut ditandatangani oleh Piri Reis dan bertanggal 9 Maret-7 April 1513 (Muharam 919 H). Kini, peta tersebut disimpan di Museum Topkapi, Konstantinopel. Ketika mencoba menelitinya, para peneliti merasa heran karena peta tersebut menggambarkan garis besar pantai Amerika Utara dan Selatan. Selain itu, terdapat pula peta wilayah Antartika, yang baru ditemukan pada tahun 1818.

Arlington T. Mallerey, seorang pakar peta kuno, sempat kebingungan saat mencoba membaca peta karya Piri Reis. Menurutnya, data geografis pada peta tersebut tidak tepat. Namun, dengan bantuan Us Navy Hydrographic Bureau, Mallerey mencoba mentransfer peta karya Piri Reis ke dalam bentuk peta dunia, dan sangat terkejut ketika melihat hasilnya. Peta tersebut ternyata sangat akurat.

Sebuah penelitian lanjutan dilakukan oleh Prof. Charles H. Hapgood dan Richard W. Strachan terhadap peta Piri Reis. Mereka menemukan fakta bahwa kemungkinan besar gambar peta Piri Reis adalah gambar aerial yang dibuat berdasarkan perkiraan ketinggian sungai, lembah, pegunungan, pulau, dan padang pasir dengan akurasi yang tidak lazim. Sebagai contoh, Piri Reis mempresentasikan wilayah Greenland sebagai dua pulau yang berbeda. Namun, kejanggalan ini akhirnya terjawab ketika para peneliti mendapat informasi dari seorang ilmuwan Perancis yang melakukan ekspedisi Kutub bahwa pada masa itu terjadi sebuah gempa besar yang menyebabkan lapisan es merekah sehingga menghasilkan ruang pemisah.

Pada bulan Januari 1966, lewat sebuah artikel di majalah Fate, Prof. Charles H. Hapgood menjelaskan penemuan yang mengagumkan sehubungan dengan peta Piri Reis. Ia memuji kehebatan Piri Reis yang dapat memetakan suatu tempat yang baru ditemukan oleh penjelajah bangsa Barat, seperti Antartika. Selain itu, Prof. Hapgood juga terperangah melihat betapa lengkapnya peta tersebut. Di lain pihak, seorang ilmuwan Jermah yang bernama P. Kahle juga mencoba meneliti peta karya Piri Reis. Di akhir penelitian, ia membuat sebuah analisa bahwa Piri Reis adalah seorang kartographer yang andal.

Piri Reis meninggal dunia pada tahun 1554.

*) Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim.
Biografi Ibnu Qutaybah: Sejarawan Ulung dari Persia

Biografi Ibnu Qutaybah: Sejarawan Ulung dari Persia

Maret 22, 2013 0
Ibnu Qutaybah lahir pada tahun 213 di Kufah. Ia adalah salah satu sejarawan keturunan Persia dan bernama lengkap Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaybah ad-Dainuri. Meskipun berasal dari Persia, Ibnu Qutaybah tidak menghabiskan banyak waktu di tanah kelahirannya. Ia justru memilih tinggal di Baghdad sembari belajar ilmu hadits, fikih, bahasa, tafsir, tata bahasa, sastra, dan sejarah. Setelah membekali dirinya dengan berbagai ilmu, Ibnu Qutaybah meninggalkan Baghdad menuju sebuah daerah di dataran tinggi Dainur. Di tempat ini, Ibnu Qutaybah menyelesaikan beberapa bukunya.

Semasa hidupnya, Ibnu Qutaybah menghasilkan sejumlah buku sejarah. Karya-karyanya antara lain: al-Anwa' al-Ma'ani al-Kabir, Syakluk Qur'an, Gharibul Qur'an, Ta'wil Mukhtalif al-Hadis, Fadlul Arab, al-Syi'ru wa al-Syu'ara, Uyun al-Akhbar, al-Ma'arif, dan al-Radd 'Ala Jahmiyah wa al-Muasyabbihah. Dari semua karyanya itu, Uyun al-Akhbar dianggap sebagai karya sastra pilihan. Buku ini terbagi atas empat jilid. Jilid pertama membahas masalah kekuasaan, perang, kebangsaan, dan keningratan. Jilid kedua membahas tentang etika, perwatakan, pengetahuan, sejumlah khutbah yang terkenal dalam sejarah Islam, dan beberapa nasihat hidup yang berharga. Jilid ketiga membahas masalah persaudaraan dan hubungan sosial kemasyarakatan. Sementara itu, jilid keempat khusus membahas masalah perempuan.

Dalam Uyun al-Akhbar, Ibnu Qutaybah juga memasukkan sejumlah ungkapan yang dikutipnya dari buku Persia dan India, dari orang Yahudi dan Nasrani, serta dari peradaban Yunani dan Arab. Ibnu Qutaybah telah membaca sejumlah kitab suci, seperti Taurat dan Injil, dan mengutip beberapa perkataan bijak yang ada di dalamnya. Tak hanya itu, ia juga banyak mengutip pendapat para pendeta dan rahib, mengutip doa Isa, Daud, dan Yusuf, serta mengutip secara utuh beberapa paragraf dari kitab suci. Hal inilah yang menyebabkan nama Ibnu Qutaybah dikenal sebagai seorang sastrawan yang ahli menggabungkan unsur budaya dan agama dalam sebuah karya. Selain itu, Ibnu Qutaybah juga dikenal sebagai penulis yang menyenangi humor. Dalam Uyun al-Akhbar, ia menyelipkan beberapa humor dengan tujuan menghibur para pembacanya. Akan tetapi, pada halaman selanjutnya ia mereasa tidak enak dengan humornya itu dan meminta maaf kepada para pembaca. Ia memberi alasan bahwa melucu adalah perbuatan halal, kecuali dilakukan ketika sedang mengkaji alquran, hadits, dan hukum agama. Selanjutnya, ia berbicara tentang dunia dan seluk beluknya, juga tentang cara membangun akhlak yang mulia.
Biografi Ibnu Qutaybah: Sejarawan Ulung dari Persia
Salah satu karya Ibnu Qutaybah sempat memicu kontroversi sejumlah orang, yang kemudian membuat keyakinannya dipertanyakan. Kontroversi tersebut bersumber dari sebuah tulisan dalam bukunya yang berjudul Musykil al-Qur'an. Tulisan tersebut berbunyi, "Dahulu, para sahabat Rasulullah saw. adalah pelita di bumi. Namun, hanya sebagian kecil dari mereka yang membaca alquran hingga dua, tiga, atau empat surat, bahkan ada yang hanya membaca satu baris. Tidak semua Khulafa al-Rasyidin membaca alquran hingga tamat, kecuali Usman. Al-Sya'bi bersumpah bahwa Ali bin Abi Thalib meninggal dunia dalam keadaan tidak hafal alquran."

Namun, terlepas dari kontroversi tersebut, Ibnu Qutaybah adalah seorang penulis yang telah menyumbangkan sejumlah karya yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu sejarah dan geografi.
Biografi Ibnu Rusta: Penulis Ensiklopedi Geografi Muslim

Biografi Ibnu Rusta: Penulis Ensiklopedi Geografi Muslim

November 05, 2012 0
Nama lengkap Ibnu Rusta adalah Abu Ali Ahmad bin Umar bin Rusta. Ia berasal dari Isfahan. Pada tahun 903 (290 H), ia mengadakan perjalanan ke Hijaz. Ibnu Rusta adalah seorang penulis buku Kitab al-A'lak an-Nafisah yang terdiri dari beberapa jilid. Ia menulis karya itu sekitar tahun 903 - 913 (290 - 300 H), sebelum kemudian diedit dan diterbitkan kembali oleh de Goeje (Leiden, 1892). Sebagai seorang yang berpendidikan tinggi, buku tersebut membahas sejumlah tema pokok dari berbagai macam disiplin ilmu, seperti matematika, geografi, dan sejarah.

Ibnu Rusta adalah seorang ahli geografi yang andal. Ia berhasil melakukan serangkaian penjelajahan dan menulis hasil pengamatannya dengan detail. Dalam sebuah buku, ia mendeskripsikan suasana kota Mekkah dan Madinah, berbagai keajaiban dunia, dan pembagian tujuh macam iklim menurut sistem Yunani. Tak hanya itu, ia juga memasukkan penjelasan tentang Konstantinopel, Bulgaria, Slavia, Rusia, dan negara lain. Selanjutnya, ia memaparkan rencana perjalanannya ke beberapa tempat. Terpisah dari deskripsi tentang negeri-negeri Islam, Ibnu Rusta menyisipkan informasi tentang sejumlah daerah di luar wilayah kekuasaan Islam.

Berdasarkan keragaman isinya, buku karya Ibnu Rusta ini dikatakan sebagai ensikopedi singkat ilmu pengetahuan, sejarah, dan geografi. Sementara itu, J.H. Kramers menilai bahwa karya tersebut adalah sebuah sumber informasi yang kaya sebab semua jenis pokok masalah yang menarik perhatian terangkum di dalamnya. Hal itulah yang membuat Kitab al-A'lak an-Nafisah dianggap sebagai literatur ilmu-ilmu sekuler, yaitu ilmu yang tidak mendapat tempat dalam literatur agama dan tradisional. Pada halaman Daftar Pustaka, terlihat bahwa Ibnu Rusta mengambil banyak keterangan dari karya al-Jayhani, Ibnu Khurradadzbih, dan laporan Abu Abdullah Muhammad bin Ishak, seorang ilmuwan yang pernah tinggal di Khmer (Kamboja) selama dua tahun. Pada masa itu, laporan Abu Abdullah Muhammad bin Ishak banyak digunakan sebagai bahan rujukan oleh para ahli ilmu bumi.
Biografi Ibnu Rusta: Penulis Ensiklopedi Geografi Muslim
Selain mahir geografi, Ibnu Rusta juga menguasai ilmu astronomi. Ia menulis buku tentang tanda-tanda zodiak dan pengenalan planet di alam semesta, yang dikategorikannya berdasarkan bentuk dan ukurannya. Untuk memudahkan para pembaca memahami isi bukunya, Ibnu Rusta menulis dengan bahasa yang singkat, jelas, dan membatasi kutipan dari buku lain, tinjauan, pandangan, dan teori para astronom. Salah satu pandangan ahli astronomi yang dikutip Ibnu Rusta adalah pandangan tentang rotasi menurut Aryabhatta. Sebagai seorang muslim yang taat, Ibnu Rusta juga mengutip ayat-ayat al-Quran untuk memperkuat pandangan astronominya.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
Biografi Al-Mas'udi: Sejarawan dan Pengembara Muslim

Biografi Al-Mas'udi: Sejarawan dan Pengembara Muslim

Agustus 25, 2012 0
Al-Mas’udi dikenal sebagai sejarawan dan ahli geografi Arab. Ia dilahirkan di Baghdad, Irak, pada akhir abad XIX. Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Ali bin Husein Ibnu Ali Mas’udi. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, al-Mas’udi tertarik mempelajari sejarah dan adat-istiadat masyarakat suatu tempat. Hal inilah yang mendorongnya untuk mengembara dari satu negeri ke negeri lain, mulai dari Persia, Istakhr, Multan, Manura, Ceylon, Madagaskar, Oman, Caspia, Tiberias, Damaskus, Mesir, dan berakhir di Suriah. Dalam pengembaraannya, al-Mas’udi mempelajari ajaran Kristen dan Yahudi, serta sejarah negara-negara Barat dan Timur.

Kitab Akhbar az-Zaman adalah salah satu karya al-Mas’udi yang terdiri dari tiga puluh jilid. Buku ini berisi uraian sejarah dunia. Karya lainnya adalah Kitab al-Ausat, yang berisi kronologi sejarah umum. Pada tahun 947, kedua karya tersebut digabungkan menjadi satu dalam sebuah buku yang berjudul Muruj adz-Dzahab wa Ma’adin atau Meadows of Gold and Mines of Precious Stones (Padang Rumput Emas dan Tambang Batu Mulia). Pada tahun 956, karya ini direvisi kembali dan diberikan sejumlah tambahan oleh penulisnya.

Muruj adz-Dzahab wa Ma’adin dianggap sebagai buku yang memberikan dasar-dasar teori evolusi. Dengan pertimbangan tersebut, buku ini diterbitkan kembali di Kairo (1866) dan diterjemahkan dalam bahasa Perancis oleh C.B. de Maynard dan P. de Courteille. Hasil terjemahan itu kemudian dibagi menjadi sembilan jilid dan dicetak di Paris (1861-1877). Buku jilid pertama sempat diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh A. Sprenger dan dicetak di London.
Biografi Al-Mas'udi: Sejarawan dan Pengembara Muslim
Selain Muruj adz-Dzahab wa Ma’adin, karya al-Mas’udi lainnya adalah Kitab at-Tanbih wa al-Isyraf (Book of Indication and Revision), yaitu sebuah buku yang berisi ringkasan koreksi terhadap tulisannya yang lain. Buku ini juga memaparkan garis besar pandangan filsafat al-Mas’udi tentang alam dan sejumlah pemikiran evolusinya. Di kemudian hari, buku ini diedit oleh M.J. de Geoje, sebelum kemudian diterjemahkan dalam bahasa Perancis oleh Carra de Vaux pada tahun 1896.

Al-Mas’udi meninggal dunia pada tahun 956.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
Biografi Al-Qazwini: Mengenalkan Ilmu Geografi Secara Sistematis

Biografi Al-Qazwini: Mengenalkan Ilmu Geografi Secara Sistematis

Agustus 17, 2012 0
Al-Qazwini lahir pada tahun 1200 (600 H) di Kazwin, Persia. Nama lengkapnya adalah Zakariyya bin Muhammad bin Mahmud Abu Yahya al-Qazwini. Ia adalah keturunan Anas bin Malik, yang terkenal sebagai ahli geografi dan kosmografi. Setelah menyelesaikan pendidikan di kampung halamannya, al-Qazwini hijrah ke Baghdad, sebelum kemudian menetap di Damaskus (1233).

Al-Qazwini adalah penulis sebuah karya besar bidang kosmografi, yaitu Aja’ib al-Makhluqat wa Ghara’ib al-Mawjudat atau Prodigies of Things and Mitaculous Aspects of Things Existing (Keajaiban Benda-Benda Ciptaan dan Aspek Luar Biada Benda-Benda yang Ada). Karya ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama membahas benda-benda yang tidak berkaitan dengan bumi, sedangkan bagian kedua menjelaskan yang sebaliknya. Pada bagian pertama, al-Qazwini menggambarkan fenomena yang berhubungan dengan langit, seperti bulan, bintang, matahari, penghuni surga, malaikat, dan sebagainya. Ia juga menguraikan kronologi penanggalan Arab dan Syiria. Pada bagian kedua, ia membahas empat elemen bumi (tanah, air, api, dan udara), meteor, dan angin. Selain itu, ia juga menjelaskan tentang tujuh iklim bumi, laut, dan sungai.

Dalam bukunya, al-Qazwini juga menerangkan penyebab terjadinya gempa bumi, pembentukan gunung dan mata air, serta serba-serbi dunia hewan, manusia, mineral, dan tanaman. Ketika membahas hewan dan manusia, ia mendeskripsikan karakter dan anatomi masing-masing. Dalam literatur muslim, karya al-Qazwini ini dianggap sebagai uraian kosmografi pertama yang sistematis. Tak heran, nama al-Qazwini langsung populer. Kebenaran uraiannya dibuktikan dalam sejumlah besar naskah versi Arab, terjemahan bahasa Persia dan Turki, serta beberapa karya revisi para ahli.
Biografi Al-Qazwini: Mengenalkan Ilmu Geografi Secara Sistematis
Dalam Aja’ib al-Makhluqat wa Ghara’ib al-Mawjudat, al-Qazwini memasukkan sejumlah Tabel Geometri dan miniatur tanaman, hewan, bahkan monster, yang dianggapnya bernilai artistik tinggi. Ia juga mendeskripsikan bumi yang dibaginya berdasarkan tujuh jenis iklim. Kota, negeri, gunung, sungai, dan lain-lain diurutkannya secara alfabetis. Ketika mendeskripsikan suatu kota atau negeri, ia tak pernah lupa memasukkan fakta-fakta historis, data geografis, dan biografi beberapa tokoh terkemuka yang berasal dari tempat tersebut. Di kemudian hari, buku karya al-Qazwini ini juga diterbitkan dalam bahasa Persia dan Turki.

Apresiasi al-Qazwini yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan membuat beberapa ilmuwan Arab modern sering membandingkannya dengan Herodotus. Dalam buku Medieval islam (Chicago, 1947), G. Von Grunebaum sempat menguti beberapa pemikiran al-Qazwini yang tertulis dalam Aja’ib al-Makhluqat.

Al-Qazwini meninggal dunia pada tahun 1283 (682 H).

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim